Skip to main content

follow us

Bali, yang terkenal akan keindahan alamnya ini, juga populer dengan sebutan pulau seribu Pura. Untuk itu sangat tidak lengkap jika saat berkunjung ke Bali anda hanya mengunjungi pantainya saja, tanpa mengintip bagaimana  pesona budaya serta tempat peribadatan masyarakat setempat. Nah ngomong-ngomong tempat peribadatan di Bali atau Pura,  tentunya sangat tepat jika Anda mengunjungi  Pura Alas Kedaton. Karena Pura ini begitu populer, bukan hanya di Indonesia tetapi juga di kalangan turis mancanegara.

 Lokasi Pura Alas Kedaton
 
Pura Alas Kedaton terletak di bagian tengah hutan monyet Alas Kedaton. Tepatnya berada di Desa Kuuh, Kecamatan Marga, Kabupaten Tabanan, Bila Anda dari arah Kot Denpasar Pura Hindu ini berjarak sekitar 35 kilometer. Tempat ibadah ini merupakan pura sakral peninggalan dari zaman megalitikum kuno di Pulau Bali.

Posisi Pura Alas Kedaton menghadap ke Barat dengan empat pintu gerbang yang berfungsi sebagai akses masuk dan keluar. Keunikan dari pura ini terletak pada halaman dalam yang memiliki posisi berbeda dari pura lainnya. Masyarakat setempat meneyebut halaman dalam pura Jeroan atau Utama Mandala. Letak halaman dalam yang lebih rendah dibanding halaman tenggah (Jaba atau Madya Mandala) Pura

Di dalam tempat ibadah ini terdapat beberapa bangunan-bangunan suci atau biasa disebut pelinggih. Ada sebuah lingga atau arca sebagai tempat pemujaan atau sembahyang. Selain itu, Anda juga akan menemui beberapa patung, yang tentunya sangat artistik dan menyimpan nilai seni yang tinggi.

• Patung Durga Mahisasura Maedhi

Patung ini memiliki delapan tangan yang berdiri diatas patung lembu. Pada setiap tanggan kanannya berurutan dari atas hingga bawah memegang Camara (penghalau lalat), Sara (panah), Pisau besar, dan memegang seekor lembu. Sementara di tangan kirinya terlihat memegang kadga, busur panah, Trsula, dan Gadha.

 • Patung Dewa Ganesha

Patung Dewa Ganeha ini duduk diatas bunga lotus dan dua naga. Tasbih berada di tangan kanannya, sementara di tangan kirinya mengengam kapak belalai. Patung Ganesha hanya memenggang satu taring ayau biasa disebut ekadanta.

Piodalan di Pura Alas Kedaton

Piodalan atau upacara di Pura Alas Kedaton berlangsung pada hari Anggara Kasih Medangsia dalam kalender Bali. Waktu tepatnya pada sepuluh hari setelah perayaan Kuningan. Yang unik dari acara ini adalah, selama upacara berlangsung tidak mengunakan dupa dan kwangen untuk persembayangan. Tak hanya itu saat upacara dilakukan di Pura Dalem Kahyangan Kedaton, tidak ditemukan Penjor selayaknya upacara di pura lainnya. Penjor merupakan tiang bambu tinggi dengan hiasan janur, hasil bumi, serta kain berwarna putih yang menyimbolkan gunung.

Piodalan haruslah selesai sebelum matahari terbenam. Karena kepercayaan setempat melarang pengunaan lampu karena bisa di artikan sama dengan api. Setelah upacara selesai maka akan dilanjutkan dengan tradisi Ngerebeg. Tradisi ini mengajak semua orang untuk bersorak sorai gembira dan berteriak dengan berlarian membawa tombak dan tedung (payung tradisional Bali) serta beberapa cabang pohon berdaun.

Hutan Monyet dan Kera

Seperti yang telah disinggung pada pembahasan sebelumnya, Pura Alas Kedaton terletak di hutan yang dihuni oleh ratusan kera atau monyet. Tak hanya itu di dalam hutan tersebut Anda juga akan menemukan ratusan kelelawar besar atau kalong. Monyet-monyet dihutan Kedaton terbilang ramah serta tak ganas. Kalau Anda merencanakan untuk mengunjungi tempat ini, jangan lupa membawa kacang-kacangan atau makanan ringan untuk monyet-monyet ini.

Meskipun kera-kera di sini ramah, pengunjung juga tetap dihimbau untuk berhati-hati. Karena bagaimanapun juga kita tidak bisa menebak perilaku hewan, bisa saja tanpa sebab yang jelas moyet tersebut menyerang Anda.

You Might Also Like:

Comment Policy: Silahkan tuliskan komentar Anda yang sesuai dengan topik postingan halaman ini. Komentar yang berisi tautan tidak akan ditampilkan sebelum disetujui.
Buka Komentar